KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, berkat rahmat dan karunia-Nya, makalah ini bisa terselesaikan.
Sesuai dengan landasan, program, dan pengembangan dalam tujuan pengajaran Biokimia nutrisi adalah agar memiliki pengetahuan, terhadap zat – zat yang terkandung dalam makanan kemasan dan keterampilan untuk mengembangkan kemampuan berfikir analitis.
Adapun penyajian materi di dalam makalah ini diupayakan sederhana dan seefektif mungkin tanpa melupakan tujuan membina kemampuan berfikir analitis dan konstruktif untuk mengetahui pemahaman perkembangan dalam mempelajarinya.
Akhirnya, saya menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan.
Semoga makalah ini dapat memenuhi fungsinya.
Penulis
DAFATAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................................ 1
DAFTAR ISI............................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN............................................................................ 3
BAB II PENGURAIAN PADA KOMPOSISI PERMEN FOX’S................ 6
A. Komposis..................................................................................... 6
1. GULA.................................................................................... 6
2. ASAM LAKTAT................................................................... 7
3. ANTOSIANIN....................................................................... 7
4. KALIUM SORBAT............................................................... 7
B. Pengawet makanan yang diijinkan.............................................. 7
C. Pengawet makanan yang mempunyai dampak negatif............... 8
D. Efek dan dampak bagi lingkungan.............................................. 8
1. Efek....................................................................................... 8
2. Dampak bagi lingkungaan...................................................... 9
BAB III PENUTUP KESIMPULAN................................................................ 10DAFTAR PUSTAKA................................................................................................. 11
BAB I
PENDAHULUAN
Bahan-bahan tambahan yang lazim disebut dengan zat aditif. Penambahan zat aditif
dalam makanan berdasarkan pertimbangan agar mutu dan kestabilanmakanan tetap terjaga
dan untuk mempertahankan nilai gizi yang mungkin rusak atau hilang selama proses
pengolahan.
dalam makanan berdasarkan pertimbangan agar mutu dan kestabilanmakanan tetap terjaga
dan untuk mempertahankan nilai gizi yang mungkin rusak atau hilang selama proses
pengolahan.
Pada awalnya zat-zat aditif tersebut berasal dari bahan tumbuh-tumbuhan yang
selanjutnya disebut zat aditif alami. Umumnya zat aditif alami tidak menimbulkan efek
samping yang membahayakan kesehatan manusia. Akan tetapi, jumlah penduduk bumi yang
makin bertambah menuntut jumlah makanan yang lebih besar sehingga zat aditif alami tidak
mencukupi lagi. Oleh karena itu, industri makanan memproduksi makanan yang memakaizat
selanjutnya disebut zat aditif alami. Umumnya zat aditif alami tidak menimbulkan efek
samping yang membahayakan kesehatan manusia. Akan tetapi, jumlah penduduk bumi yang
makin bertambah menuntut jumlah makanan yang lebih besar sehingga zat aditif alami tidak
mencukupi lagi. Oleh karena itu, industri makanan memproduksi makanan yang memakaizat
aditif buatan (sintesis). Bahan baku pembuatannya adalah dari zat-zat kimia yang kemudian
direaksikan. Zat aditif sintesis yang berlebihan dapat menimbulkan beberapa efek samping
misalnya: gatal-gatal, dan kanker.
Perilaku konsumen di Indonesia yang menyukai jenis makanan yang mempunyai rasa manis, asin dan gurih serta berpenampilan menarik (berwarna mencolok) menyebabkan banyaknya penggunaan bahan tambahan pangan (BTP) ke dalam produk makanan termasuk makanan ringan dan konfeksioneri. Penggunaan BTP ke dalam produk pangan, termasuk makanan ringan serta konfeksioneri ialah agar dihasilkan produk yang mempunyai rasa yang enak, berwarna menarik, lebih awet serta mempunyai berbagai macam rasa sesuai perkembangan jaman dan permintaan konsumen. Kemajuan ilmu teknologi pangan dan inovasi oleh produsen karena adanya permintaan dari konsumen di dunia dewasa ini, juga menyebabkan meningkatnya penggunaan BTP pada produk-produk ini.
Keamanan pangan merupakan persyaratan utama yang harus dimiliki oleh setiap produk makanan yang beredar di pasaran. Untuk menjamin keamanan pangan terutama pangan olahan seperti makanan ringan dan konfeksioneri, maka dibutuhkan kerjasama antara pemerintah, produsen dalam hal ini industri makanan dan juga konsumen, dengan pengaturan dan pembinaan dari pemerintah.
Definisi Bahan Tambahan Pangan (BTP) menurut PP. No. 28 tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan ialah bahan yang sengaja ditambahkan ke dalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk pangan. Menurut Undang-undang RI nomor 7 tahun 1996 tentang Pangan, Bahan Tambahan Pangan adalan bahan atau campuran bahan yang secara alami bukan merupakan bagian dari bahan baku pangan, tetapi ditambahkan kedalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk pangan, antara lain pewarna, pengawet, penyedap rasa, anti gumpal, pemucat dan pengental. Bahan Tambahan Pangan ini berupa bahan atau campuran bahan yang secara alami dan bukan merupakan bagian dari bahan baku pangan, tetapi ditambahkan ke dalam pangan dengan tujuan diantaranya adalah untuk :
- Mengawetkan pangan
- Membentuk pangan menjadi lebih baik, renyah dan lebih enak.
- Memberikan warna dan aroma lebih menarik
- Meningkatkan warna dan aroma lebih menarik.
- Menghemat biaya.
Maraknya penggunaan BTP pada makanan ringan dan konfeksioneri juga terkait dengan beragam tujuan. Para produsen biasanya menggunakan BTP untuk mencegah produk dari bau apek (tengik), misalnya pada makanan ringan yang mengandung banyak minyak, maka ditambahkan BTP antioksidan. Selain itu pada makanan ringan biasanya ditambahkan BTP penguat rasa MSG agar makanan berasa gurih, serta ditambahkan juga BTP perisa untuk menghasilkan berbagai macam flavor seperti rasa pizza, rasa sate ayam dan barbeque.
Pada produk permen biasanya ditambahkan BTP pengatur keasaman seperti asam sitrat dan asam malat, yang dapat memberikan rasa asam, beraroma dan berasa segar buah-buahan, dan untuk memperlihatkan seolah-olah di dalam permen tersebut terdapat ekstrak buah-buahan sesuai dengan rasa yang diberikan maka ditambahkan juga BTP pewarna makanan (misal permen rasa stroberi diberi warna merah, rasa jeruk ditambahkan tartrazin agar berwarna oranye atau kuning). Selain itu BTP perisa juga biasa ditambahkan, misalnya ekstrak kopi dan ekstrak vanila untuk memberi rasa pada permen rasa kopi atau vanili. BTP pengemulsi biasanya digunakan pada produk konfeksioneri berupa permen jeli atau permen lunak. BTP pengemulsi ini berupa lemak nabati ataupun lemak sayuran dan lecitin (zat yang banyak terdapat dalam kacang kedelai). Ada juga permen yang mendapat tambahan zat serat, terutama serat larut air seperti gel yang dimaksudkan agar permen mendatangkan rasa nikmat saat digigit. Gel juga berasal dari sari buah dan agar-agar atau gelatin yang membuatnya terasa kenyal.
Adakah dampak negatif penggunaan BTP secara berlebihan?
Adakah dampak negatif penggunaan BTP secara berlebihan?
Semua senyawa kimia apabila dikonsumsi secara terus menerus dalam waktu lama mau tidak mau akan menimbulkan efek tidak baik terhadap kesehatan, oleh karena itu maka dibatasi kadar penggunaannya di dalam produk. Untuk BTP yang sudah dikaji keamanannya terutama oleh institusi terpercaya seperti komite JECFA (Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives) maka dapat dipertanggungjawabkan keamanannya karena senyawa ini sudah melalui pengkajian ilmiah yang cukup mendalam dan sudah melalui serangkaian studi baik jangka pendek maupun jangka panjang untuk mengetahui efek toksikologinya terutama pada manusia.
Pengaturan penggunaan BTP dalam makanan ringan dan produk konfeksioneri?
Peraturan mengenai penggunaan BTP di Indonesia dituangkan di dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No. 722 tahun 1988 tentang Bahan Tambahan Makanan. Pengelompokan BTP yang diizinkan digunakan pada makanan menurut Permenkes 722/88 tersebut adalah sebagai berikut:
- Antioksidan
- Antikempal
- Pengatur Keasaman
- Pemanis Buatan
- Pemutih dan Pematang Tepung
- Pengemulsi, Pemnatap, Pengental
- Pengawet
- Pengeras
- Pewarna :
-Pewarna Alam
- Pewarna Sintetik - Penyedap rasa dan aroma
- Penguat rasa
- Sekuestran
Produk makanan ringan dan konfeksioneri diijinkan untuk menggunakan BTP, selama BTP yang digunakan tersebut telah diatur penggunaannya di dalam Peraturan tersebut di atas. Adapun jenis BTP yang telah diijinkan penggunaannya di dalam produk makanan ringan dan/atau konfeksioneri menurut Permenkes No. 722 tahun 1988 tentang Bahan Tambahan Pangan ialah antara lain BTP Antioksidan, BTP Pengatur Keasaman, BTP Pemanis Buatan, BTP Pengawet, BTP Penguat Rasa, BTP Pewarna dan BTP Perisa.
Seiring perkembangan ilmu teknologi pangan dan adanya kajian ilmiah terbaru mengenai keamanan BTP yang ada di dunia saat ini, maka saat ini Badan POM bersama dengan Pakar terkait sedang mempersiapkan revisi dari Permenkes 722/88 tersebut yang nantinya revisi peraturan ini akan dimandatorikan melalui Peraturan Kepala BPOM tentang Persyaratan Penggunaan Bahan Tambahan Pangan dalam Pangan. Sampai saat ini, rancangan peraturan tersebut masih dalam tahap pembahasan bersama Tim Pakar.
Setiap kali konsumen membeli produk pangan, termasuk makanan ringan dan produk konfeksioneri maka sebaiknya lakukan hal berikut ini:
- Perhatikan label pada setiap kemasan produk. Pastikan bahwa pada label itu tercantum izin dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) yang tertulis: “POM dan Nomor izin pendaftaran (MD/ML)”. Atau jika produk tersebut hasil industri rumah tangga maka harus ada nomor pendaftarannya yang tertulis: “ P-IRT dan nomor izin pendaftaran”.
- Untuk produk makanan yang tidak dikemas secara khusus, sebaiknya pilih makanan atau minuman yang warnanya tidak terlalu mencolok, karena kemungkinan warna tersebut berasal dari BTP pewarna bukan makanan (non food grade) seperti pewarna tekstil.
BAB II
PENELITIAN PADA KOMPOSISI PERMEN FOX’S
Pada dasarnya kandungan kalori dalam satu butir permen cukup rendah. Sekitar 20-30 kalori. Selain kalori, permen sebetulnya sama sekali tak memiliki kandungan gizi. Padahal kelebihan kalori yang dikonsumsi akan ditumpuk dalam bentuk cadangan lemak yang menyebabkan anak kelebihan berat badan. Sudah menjadi rahasia umum pula bila kegemukan berkaitan erat dengan penyakit kencing manis dan gangguan jantung. Jadi, kalau boleh jujur sebetulnya permen termasuk golongan junk food alias “makanan sampah” yang miskin akan zat gizi.
Disini saya akan mengambil sampel pada permen FOX’S

A. Komposisi
Gula, sirup glukosa, asam laktat, perisa dan ekstrak buah- buahan , pewarna makanan alami (antosianin INS), karbon sayur INS 153 (mengandung pengawet makanan kalium sorbat dan natrium benzoat).
1. GULA
Gula atau sukrosa merupakan karbohidrat berasa manis yang sering pula digunakan sebagai bahan pengawet khususnya komoditas yang telah mengalami perlakuan panas. Perendaman dalam larutan gula secara bertahap pada konsentrasi yang semakin tinggi merupakan salah satu cara pengawetan pangan dengan gula. Gula seperti halnya garam juga menghambat pertumbuhan dan aktivitas bakteri penyebab pembusukan, kapang, dan khamir.
2. ASAM LAKTAT
Asam laktat bersifat higroskopis, cair yang memberikan rasa asam yang kuat.Asam laktat digunakan pada pabrik jam, jelly, produk permen, dan minuman.Ini digunakan untuk menambah keasaman cairan dalam manisan atau olive. Kalsium laktat digunakan untuk pembentukan agen untuk slices apel, untuk mencegah discolrosasi pada buah dan baking powder.
Asam laktat merupakan penghambat bagus untuk pembentukan spora bakteri pada pH 5 tetapi tidak efektif untuk yeast dan mold. Asam laktat 4 kali lebih efektif dibandingkan asam malat, sitrat, propionate dan asam asetat dalam membatasi pertumbuhan Bacillus coagulans, organism yang bertanggung jawab terhadap kerusakan flat sour pada jus tomat. Asam laktat lebih menghambat Mycobacterium tuberculosis pada pH yang turun
3. ANTOSIANIN
ANTOSIANIN, penyebab warna merah, oranye, ungu dan biru banyak terdapat pada bunga dan buah-buahan seperti bunga mawar, pacar air, kembang sepatu, bunga tasbih/kana, krisan, pelargonium, aster cina, dan buah apel,chery, anggur, strawberi, juga terdapat pada buah manggis dan umbi ubi jalar. Bunga telang, menghasilkan warna biru keunguan. Bunga belimbing sayur menghasilkan warna merah. Penggunaan zat pewarna alami, misalnya pigmen antosianin masih terbatas pada beberapa produk makanan, seperti produk minuman (sari buah, juice dan susu).

karbon sayur INS 153 (mengandung pengawet makanan kalium sorbat dan natrium benzoat).
4. KALIUM SORBAT
Kalium sorbat merupakan salah satu dari garam-garaman sorbat yang lainnya yaitu K, Na, dan Ca sorbat. Zat pengawet K-sorbat mempunyai fungsi dan batasan maksimum penggunaan yang sama dengan asam benzoat. Oleh karena itu penggunaan K-sorbat sebagai pengawet dalam bahan makanan juga tidak boleh berlebihan agar tidak terjadi keracunan. ADI K-sorbat adalah 25 mg/kg berat badan. Penggunaan maksimum K-sorbat dalam makanan berkisar antara 0,05 – 0,3 % untuk yang diaplikasikan langsung dan antara 10 – 20 % untuk yang disemprotkan atau diaplikasikan pada permukaan makanan. Garam sorbat itu lebih sering digunakan karena mempunyai kelarutan yang lebih baik dalam air dan bekerja dalam keadaan tak terdisosiasi, dengan keaktifan 10 – 600 kali bentuk asamnya.
B. Pengawet makanan yang diijinkan
Pengawet yang diijinkan digunakan untuk pangan tercantum dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor : 722/Menkes/Per/IX/88 Tentang Bahan Tambahan Makanan, mencakup :1. Asam Benzoat 2. Asam Propionat
3. Asam Sorbat 4. Belerang Oksida
5. Etil p-Hidroksida Benzoat 6. Kalium Benzoat
7. Kalium Bisulfit 8. Kalium Meta Bisulfit
9. Kalium Nitrat 10. Kalium Nitrit
11. Kalium Propionat 12. Kalium Sorbat
13. Kalium Sulfit 14. Kalsium benzoat 15. Kalsium Propionat
16. Kalsium Sorbat 17. Natrium Benzoat
18. Metil-p-hidroksi Benzoat 19. Natrium Bisulfit
20. Natrium Metabisulfit 21. Natrium Nitrat
22. Natrium Nitrit 23. Natrium Propionat
24. Natrium Sulfit 25. Nisin
26. Propil-p-hidroksi Benzoat
C. PENGAWET MAKANAN YANG MEMILKI DAMPAK NEGATIF
Senyawa yang sudah jelas menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan ialah golongan senyawa yang dilarang penggunaannya didalam pangan seperti yang tercantum di dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. 722 tahun 1988 tentang Bahan Tambahan Makanan (Lampiran II), yaitu sebagai berikut:
- Asam borat (boric acid) dan senyawanya
- Asam salisilat dan garamnya (salicylic acid and its salt)
- Dietilpirokarbonat (diethylpyrocarbonate, DEPC)
- Dulsin (dulcin)
- Kalium klorat ( potassium chlorate)
- Kloramfenikol (chloramphenicol)
- Minyak nabati yang dibrominasi (brominated vegetable oils)
- Nitrofurazon (nitrofurazone)
- Formalin (formaldehyde)
D. EFEK & DAMPAK BAGI LINGKUNGAN
1. Efek
Sebenarnya tidak ada satupun makanan yang 100% aman untuk dikonsumsi jika kita mengkonsumsinya secara salah. Jadi kita harus mengkonsumsi makanan, minuman, serta obat-obatan dalam jumlah yang secukupnya. Jika tidak, akan menimbulkan resiko.
Jika kita terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang banyak menganduk bahan aditif buatan/sintetis, maka kita bida terserang penyakit yang tidak kita inginkan.
Informasi mengenai Batas Maksimal Penggunaan harian (BMP) atau Acceptable Daily Intake (ADI) sangat penting diketahui oleh produsen makanan dan masyarakat. ADI merupakan batasan yang tidak menimbulkan resiko jika di komsumsi oleh manusia dengan perhitungan per kg berat badan.
Dampak dari permen
* Merusak gigi
Sebenarnya pengaruh permen pada kerusakan gigi sangat tergantung pada kedisiplinan/kebiasaan anak menjaga kebersihan mulutnya. Terutama menggosok gigi maupun caranya membersihkan gigi serta seberapa banyak dan seberapa sering ia makan permen. Ada anak yang hobi makan permen tapi karena rajin menggosok gigi, ya tidak jadi masalah. Lain cerita kalau sisa-sisa permen yang menempel di gigi tidak dibersihkan sesegera mungkin, Inilah yang kemudian akan menyebabkan terjadinya lubang gigi (karies). Kalau gigi sudah terkena karies pasti akan terasa sakit. Akibatnya, anak akan rewel selain tak mau makan. Ujung- ujungnya orangtua sendiri yang akan kewalahan menghadapinya. Apa pun, mencegah jauh lebih baik daripada telanjur terkena karies.
* Mengurangi nafsu makan
Jika permen dikonsumsi saat senggang setelah anak sarapan atau makan siang tentu tidak jadi masalah karena kebutuhan zat gizinya telah terpenuhi saat makan tadi. Sayangnya, permen sering dikonsumsi mendekati waktu makan hingga akan mengganggu selera makan anak. Gula yang terkandung dalam permen akan memberi efek kenyang sehingga mengurangi selera makan anak.
2. Dampak Bagi Lingkungan
Pada umumnya bahan makanan yang mengandung zat aditif sintetis tidak ramah lingkungan. Selain itu juga dapat beresiko tinggi bagi kesehatan tubuh. Karena zat itu tidak terurai. Dan juga dapat mengakibatkan pencemaran lingkungan.
Untuk itu, Lebih baik kita mengkomsumsi bahan makanan yang mengandung zat aditif alami. Selain Zat itu terurai, juga baik bagi kesehatan tubuh. Dan tidak mengakibatkan pencemaran lingkungan
PENUTUP
KESIMPULAN
Bahan makanan yang mengandung zat sintetis atau buatan tidak baik untuk dikonsumsi. Kita boleh saja mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung zat aditif sintetis. Tetapi harus ada batasannya. Jika kita terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang banyak menganduk bahan aditif buatan/sintetis, maka kita bisa terserang penyakit yang tidak kita inginkan.
Berbeda dengan bahan makanan yang alami. Bahan makanan yang alami adalah kebalikan dari Bahan makanan yang mengandung zat sintetis atau buatan. Yaitu bahan makanan yang alami lebih bermanfaat untuk kesehatan tubuh. Dan tidak berbahaya jika dikonsumsi.
Jadi, lebih baik kita mengkonsumsi bahan makanan yang alami. Jagalah kesehatan tubuh kita ! janganlah menyakiti diri sendri dengan mengkonsumsi makanan yang tidak baik untuk kesehatan.
DAFTAR PUSTAKA
Winarno F.G., 1997, Kimia Pangan dan Gizi, Jakarta, PT. Gramedia
De Man, John, 1997, Kimia Makanan, Terjemahan Kosasih P., Bandung, Penerbit ITB
Anonimus, 1988, Peraturan Mentri Kesehatan, RI No. 722/MenKes/Per/IX/1988, Bahan Tambahan Makanan, Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar